![]() |
Dari hasil pengecekan di lapangan, longsor menyebabkan badan jalan ambles dengan kedalaman mencapai sekitar 34 meter. Kerusakan membentang sepanjang kurang lebih 20 meter dengan lebar jalan sekitar 2,5 meter. Tidak hanya memutus akses kendaraan, kejadian ini juga berdampak pada infrastruktur pendukung, yakni pipa PAMSIMAS yang dikelola masyarakat bersama pemerintah desa, yang dilaporkan putus total.
Kepala Desa Wanatirta, Darto, SH, mengatakan pihaknya mengetahui kejadian tersebut setelah menerima laporan warga yang datang ke kantor desa pada Selasa siang. Menindaklanjuti laporan itu, ia bersama perangkat desa segera turun langsung ke lokasi untuk memastikan kondisi serta tingkat kerusakan.
“Kami langsung ke lokasi setelah mendapat laporan dari warga. Kondisinya sangat membahayakan karena ini jalan utama yang sering dilalui masyarakat,” ujar Darto.
![]() |
Ia mengungkapkan, kerusakan jalan sebenarnya telah terjadi sejak lama dan sudah beberapa kali diajukan untuk mendapatkan perbaikan. Namun hingga kini belum terealisasi, sehingga sebelum ada penanganan permanen, jalan terlebih dahulu mengalami longsor.
“Sejak awal kondisinya sudah terlihat miring. Usulan perbaikan sudah diajukan, tetapi belum ada tindak lanjut, akhirnya keburu longsor,” jelasnya.
Situasi tersebut semakin mengkhawatirkan karena wilayah Kecamatan Paguyangan masih berada dalam musim hujan. Curah hujan yang tinggi dikhawatirkan akan mempercepat erosi tanah dan memperluas area longsoran.
“Kalau hujan deras terus terjadi, bukan tidak mungkin longsoran bertambah besar dan sisa jalan ikut habis,” tambah Darto.
![]() |
Sementara itu, Mulyo Subegjo, selaku Kaur Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Desa Wanatirta, turut melakukan pendataan langsung di lokasi dengan membawa alat ukur guna mencatat secara detail tingkat kerusakan yang terjadi.
Pemerintah desa berharap adanya perhatian dan penanganan serius dari instansi berwenang, mengingat jalan tersebut merupakan jalur vital penghubung antar dukuh yang sangat berpengaruh terhadap mobilitas, aktivitas ekonomi, serta kehidupan sosial masyarakat, terutama di tengah cuaca ekstrem musim hujan.***



