![]() |
Dalam video tersebut, terlihat rumah sederhana yang sebagian besar terbuat dari bambu (bribig) tampak rapuh, atapnya bocor, dan bagian belakang bangunan sudah roboh. Seorang warga setempat yang menjadi narasumber menjelaskan bahwa rumah tersebut belum pernah tersentuh bantuan pemerintah, baik dari program Rehab Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) maupun bantuan sosial lainnya.
![]() |
Lebih lanjut, warga juga menyinggung bahwa setiap menjelang pemilu rumah-rumah warga pelosok selalu didatangi untuk dimintai hak suara. Namun setelah pesta demokrasi selesai, perhatian terhadap kesejahteraan warga miskin nyaris tidak terlihat.
Sebagai bentuk solidaritas, masyarakat sekitar berencana melakukan renovasi rumah Sanmarta secara swadaya pada Rabu mendatang. Warga akan bergotong royong membongkar bagian rumah yang rusak dan memperbaikinya dengan material seadanya.
“Kami berharap ada perhatian dari pemerintah maupun DPR agar keluarga ini bisa tinggal di rumah yang lebih layak. Untuk sementara, warga siap membantu dengan tenaga dan apa yang ada,” lanjut narasumber.
![]() |
Ironisnya, hingga kini keluarga Sanmarta belum pernah menerima bantuan dari pemerintah, baik untuk perbaikan rumah maupun bantuan sosial lain. Hal ini memunculkan sorotan dari masyarakat sekitar yang menilai pemerintah daerah seakan tidak perduli terhadap warganya yang membutuhkan.
Warga berharap pemerintah segera turun tangan agar keluarga Sanmarta bisa tinggal di rumah yang lebih layak dan aman. Kasus ini menjadi pengingat bahwa masih banyak pekerjaan rumah bagi pemerintah dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat, khususnya bagi warga di pelosok seperti Bentarsari, Salem.***



