![]() |
Sejak dulu Tuk Sirah dikenal sebagai tempat bermain dan mandi warga, terutama karena kejernihan air yang bersumber dari titik nol Sungai Pemali. Kini, melalui kerja bersama komunitas pemuda, relawan lingkungan, dan kelompok Babat Alas, kawasan ini ditata menjadi wisata yang lebih aman dan nyaman. Mereka mendorong perubahan dari tempat alami yang kurang terurus menjadi destinasi yang memberikan manfaat luas bagi masyarakat.
Tokoh masyarakat Bagus Handoko menilai perubahan ini berdampak nyata bagi ekonomi warga. Aktivitas parkir, pedagang kecil, dan warung makan kini semakin berkembang seiring bertambahnya kunjungan wisatawan. Menurutnya, seni dan budaya lokal juga mulai mendapat ruang tampil yang lebih teratur.
Harga tiket masuk yang dipatok Rp10.000 dinilai sebanding dengan fasilitas yang tersedia. Saat ini pengunjung dapat menikmati berbagai sarana pendukung, seperti mushola, kafe karaoke, warung warga, terapi ikan, area bermain air, serta spot foto alami di sekitar mata air. Seluruh fasilitas ini dikelola oleh masyarakat dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan sekitar Tuk Sirah.
Selain menjadi tujuan rekreasi keluarga, kawasan ini juga sering digunakan sekolah untuk kegiatan edukasi luar ruangan, pengenalan lingkungan, dan wisata air berbasis alam. Hal ini menjadikan Tuk Sirah tidak hanya bermanfaat secara ekonomi, tetapi juga sebagai sarana pembelajaran bagi generasi muda.
Pengembangan wisata Tuk Sirah Pemali merupakan hasil kerja sama pengelola lokal dengan Perhutani KPH Pekalongan Barat, sehingga seluruh aktivitas wisata tetap mengikuti aturan kawasan hutan dan prinsip konservasi.
Dengan pengelolaan yang terus ditingkatkan, Tuk Sirah Pemali semakin mengokohkan diri sebagai ikon wisata air Brebes Selatan yang memberi kontribusi nyata bagi masyarakat Desa Winduaji.***
