Becak Listrik Bantuan Presiden di Brebes Sempat Ditahan, BUMDes Padakaton Akhirnya Serahkan ke Penerima

Sumber Poto: Raeko ( Istimewa)
HARIANBUMIAYU.COM, Brebes - Polemik penyaluran becak listrik bantuan Presiden Prabowo Subianto di Desa Padakaton, Kecamatan Ketanggungan, Kabupaten Brebes, akhirnya menemui titik terang. Pihak Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Mekar Jaya memastikan tiga unit becak listrik yang sebelumnya sempat ditahan telah diserahkan kepada masing-masing penerima.

Ketua BUMDes Mekar Jaya Desa Padakaton, Suherman (44), mengatakan seluruh becak listrik tersebut sudah dibawa pulang oleh penerima bantuan.

“Alhamdulillah, tiga becak listrik bantuan Bapak Presiden sudah kami serahkan dan telah dibawa ke rumah masing-masing penerima,” ujar Suherman saat dikonfirmasi, Jumat (19/12/2025).

Sebelumnya, kasus ini mencuat ke publik setelah tiga warga Desa Padakaton mengaku kecewa karena becak listrik yang mereka terima usai penyerahan di Pendopo Kabupaten Brebes justru ditarik kembali oleh pengurus BUMDes dengan alasan dititipkan sementara.

Para penerima merasa nama mereka hanya digunakan untuk mendapatkan bantuan tersebut, sementara becak listrik tidak langsung diserahkan kepada mereka.

Menanggapi hal itu, Suherman menegaskan bahwa becak listrik tersebut tidak pernah menjadi milik BUMDes. Menurutnya, penyimpanan di gedung TPS 3R KSM Sejahtera Bersama hanya bersifat sementara karena lokasi tersebut dinilai aman untuk parkir.

“Posisinya dititipkan sementara di gedung TPS 3R karena bisa digunakan sebagai garasi. Itu hanya transit, bukan untuk dikuasai,” jelasnya.

Ia juga beralasan, becak listrik tidak langsung diserahkan kepada penerima guna menghindari potensi kecemburuan sosial di tengah banyaknya penarik becak lain di desa yang berharap mendapat bantuan serupa.

“Banyak penarik becak lain yang meminta didata sebagai calon penerima. Kami khawatir jika langsung diserahkan bisa menimbulkan kecemburuan,” katanya.

Terkait adanya dua penerima bantuan yang diketahui bukan berprofesi sebagai penarik becak, Suherman tidak menampik hal tersebut. Ia menyebut proses pendataan dilakukan secara mendadak sehingga pihaknya mengajukan tiga nama, termasuk satu pegawai BUMDes.

“Permintaan data sangat mepet, sehingga tiga nama itu kami ajukan, termasuk Sudrajat yang bekerja di BUMDes. Keputusan ini juga sudah kami koordinasikan dengan pihak desa,” tegasnya.

Sementara itu, salah satu penerima bantuan, Daklan (57), yang sehari-hari bekerja sebagai penarik becak, menceritakan kekecewaannya. Ia mengaku awalnya merasa senang saat ditawari sebagai penerima becak listrik bantuan presiden.

“Awalnya saya didatangi Pak Herman dan ditawari becak listrik bantuan Presiden. Saya diminta ikut pelatihan tanggal 2 Desember dan diberi uang Rp100 ribu,” kata Daklan saat ditemui di rumahnya, Kamis (18/12).

Daklan kemudian mengikuti penyerahan becak listrik di Pendopo Brebes pada 7 Desember 2025 bersama puluhan penerima lainnya. Usai acara, ia pulang mengendarai becak listrik tersebut. Namun di tengah perjalanan, becak itu dihentikan dan diangkut kembali oleh pihak BUMDes.

“Di Desa Jagalempeni, becak saya dicegat dan diangkut pakai mobil bak terbuka,” tuturnya.

Daklan mengaku sempat mengira becak tersebut akan segera diantarkan ke rumahnya. Namun hingga sore hari, becak tidak kunjung tiba. Ia justru mendapat penjelasan bahwa becak tersebut akan disimpan dan disebut sebagai milik BUMDes. Bahkan, ia mengaku sempat diberi uang Rp50 ribu setelah mempertanyakan hal itu.

“Kalau dari awal tahu becaknya bukan untuk saya, saya tidak mau meskipun diberi uang,” ungkapnya.

Daklan juga menyebut dari tiga penerima bantuan di Desa Padakaton, hanya dirinya yang benar-benar berprofesi sebagai penarik becak. Dua penerima lainnya diketahui bekerja sebagai buruh dan pegawai BUMDes.

“Hanya saya yang tukang becak. Yang lain bukan,” pungkasnya.(r)

close