![]() |
Pergerakan tanah dilaporkan semakin memburuk seiring tingginya intensitas hujan yang mengguyur kawasan tersebut. Retakan tanah muncul dan terus melebar di sekitar permukiman warga. Kondisi ini diperparah oleh aliran Kali Keruh yang berada di sisi tebing selatan–utara Dukuh Krajan, sehingga meningkatkan potensi longsor susulan.
Data sementara mencatat sedikitnya 12 rumah warga mengalami kerusakan struktural dengan tingkat risiko tinggi. Dari jumlah tersebut, lima rumah direkomendasikan untuk segera dikosongkan. Puluhan warga terdampak, dan hingga saat ini tiga warga telah mengungsi ke lokasi yang lebih aman.
Warga yang disarankan untuk mengungsi antara lain Komar (63), Jakaria (42), Kasem (65), Wasri (78), Opi (43), dan Saefulloh (53), bersama anggota keluarganya masing-masing. Sementara itu, sebagian warga lainnya masih bertahan di rumah dengan status waspada, sambil menunggu perkembangan kondisi di lapangan.
Penjabat Kepala Desa Plompong, Heri Kurniawan, membenarkan kejadian tersebut. Ia memastikan tidak ada korban jiwa maupun korban luka dalam peristiwa pergerakan tanah ini.
“Situasinya cukup mengkhawatirkan, terutama jika hujan dengan intensitas tinggi kembali terjadi. Ancaman bencana susulan masih ada,” ujar Heri, Jumat (9/1/2026).
Pemerintah Desa Plompong bersama relawan terus melakukan pemantauan dan memberikan edukasi kepada warga agar meningkatkan kewaspadaan. Warga juga diimbau untuk bersedia mengungsi apabila kondisi dinilai membahayakan keselamatan.
Hingga kini, pihak terkait masih melakukan kajian lanjutan untuk menentukan langkah penanganan berikutnya, termasuk kemungkinan penetapan status tanggap darurat lokal jika situasi terus memburuk. Warga di sekitar lokasi diminta tetap waspada dan segera melaporkan tanda-tanda pergerakan tanah lanjutan kepada aparat desa atau petugas berwenang.***

