![]() |
| Ilustrasi ( istimewa/Meta AI) |
Secara umum, tidur merupakan bagian dari kebutuhan dasar manusia. Dalam proses tidur, tubuh melakukan pemulihan, termasuk memperbaiki sel, menyeimbangkan hormon, serta mendukung daya tahan tubuh. Sejumlah literatur kesehatan menyebutkan bahwa pola tidur yang tidak teratur, termasuk kebiasaan tidur terlalu malam, dapat memengaruhi ritme biologis atau circadian rhythm.
Para tenaga medis merekomendasikan agar orang dewasa mendapatkan waktu tidur yang cukup, yakni sekitar 7 hingga 8 jam per malam. Kurangnya waktu tidur secara berkelanjutan disebut dapat berdampak pada kondisi fisik maupun mental, seperti menurunnya konsentrasi, mudah lelah, dan berkurangnya produktivitas. Dalam beberapa kasus, kebiasaan kurang tidur juga dikaitkan dengan meningkatnya risiko gangguan kesehatan tertentu.
Fenomena tidur larut malam cukup banyak ditemukan di kalangan remaja dan usia produktif. Aktivitas di media sosial, hiburan daring, serta pola kerja yang tidak teratur sering membuat waktu tidur mundur hingga larut malam. Akibatnya, aktivitas di keesokan hari menjadi kurang optimal.
Selain berdampak pada kebugaran, kurang tidur juga dapat memengaruhi penampilan dan daya tahan tubuh. Tubuh yang tidak mendapatkan istirahat cukup cenderung lebih rentan mengalami gangguan kesehatan ringan, seperti flu atau kelelahan berkepanjangan.
Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga pola tidur yang sehat. Upaya sederhana seperti mengurangi penggunaan gawai sebelum tidur, menciptakan lingkungan tidur yang nyaman, serta membiasakan tidur dan bangun di waktu yang relatif sama dapat membantu meningkatkan kualitas istirahat.
Tidur yang cukup bukan hanya bagian dari gaya hidup sehat, tetapi juga investasi jangka panjang bagi kualitas hidup. Dengan pola tidur yang lebih teratur, diharapkan tubuh dan pikiran dapat berfungsi secara optimal dalam menjalani aktivitas sehari-hari.***

