![]() |
Riyanto, mantan anggota DPRD Kabupaten Brebes pada tahun 1999 - 2004, kader senior PDIP, secara terbuka menyampaikan kekecewaannya terhadap hasil Konfercab tersebut. Menurutnya, proses pemilihan dinilai tidak objektif dan tidak mengedepankan prinsip keadilan bagi seluruh kader, khususnya kader lama dan simpatisan di akar rumput.
“Proses Konfercab ini sangat mengecewakan. Tidak demokratis dan tidak yudikatif. Aspirasi kader kecil sama sekali tidak diperhatikan,” ujar Riyanto, pada awak media di Warkop "PIEREL" Kecamatan Paguyangan Kabupaten Brebes, Sabtu 17 Januari 2026.
![]() |
“Kami masih melihat situasi ke depan, tetapi jika seperti ini terus, bukan tidak mungkin akan terjadi gelombang pengunduran diri. Jumlahnya bisa ribuan simpatisan,” tegasnya.
Riyanto yang dikenal sebagai kader lama PDIP, khususnya di wilayah Kecamatan Paguyangan, menilai Konfercab kali ini mengabaikan peran dan kontribusi kader akar rumput yang selama ini menjadi tulang punggung perjuangan partai.
Ia juga mengingatkan, jika konflik internal ini dibiarkan, maka dampaknya akan sangat terasa pada kontestasi politik mendatang, termasuk Pilkada 2029.
“Kalau kondisi ini tidak diperbaiki, saya yakin suara PDIP di Brebes akan hancur dan berkurang drastis pada Pilkada 2029,” pungkasnya.
Sebagai bentuk protes, sejumlah simpatisan PDIP di Kecamatan Paguyangan juga mengembalikan atribut berupa kaos bergambar Kepala Banteng Moncong Putih. Mereka menyatakan atribut tersebut tidak lagi mencerminkan aspirasi serta nilai perjuangan yang mereka yakini selama ini.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pihak DPC PDIP Kabupaten Brebes terkait pernyataan kekecewaan dari sejumlah kader dan simpatisan tersebut.***


