![]() |
Momentum ngabuburit itu dimanfaatkan sebagai ruang dialog terbuka. Mayoritas warga yang hadir merupakan kalangan lanjut usia (lansia). Mereka menyampaikan berbagai aspirasi secara langsung, mulai dari kebutuhan sosial hingga persoalan infrastruktur desa.
Keluhan yang paling menonjol adalah kondisi jalan desa yang rusak dan dinilai mengganggu aktivitas harian masyarakat, termasuk akses ekonomi dan layanan dasar. Paramitha mendengarkan setiap masukan dengan saksama, mencatat poin-poin penting, dan memastikan aduan tersebut akan masuk dalam skala prioritas pembangunan.
“Ramadhan menjadi waktu yang tepat untuk mempererat silaturahmi sekaligus mendengar langsung kebutuhan masyarakat,” ujarnya singkat namun tegas.
Selain dialog, kegiatan tersebut juga diisi dengan penyaluran 200 paket sembako kepada warga. Bantuan itu diberikan sebagai bentuk kepedulian sosial pemerintah daerah terhadap masyarakat, khususnya lansia, di bulan suci.
Salah satu warga, Rohmah, mengaku bersyukur dapat berbicara langsung dengan kepala daerah. Ia berharap perbaikan jalan desa dapat segera direalisasikan agar mobilitas warga kembali lancar.
Kehadiran Bupati di tengah masyarakat pedesaan menjadi penegasan komitmen pemerintah daerah untuk tidak hanya bekerja dari balik meja, tetapi turun langsung menyerap aspirasi dan merespons kebutuhan riil warga. Dalam suasana sederhana namun hangat, dialog sore itu menjadi cerminan pendekatan kepemimpinan yang partisipatif dan responsif. (r)

