Tradisi Ngasa Gandoang 2026 Kian Semarak, 450 Warga Naik Gunung Sagara Rayakan Warisan Leluhur Brebes

HARIANBUMIAYU.COM. BREBES | Tradisi Ngasa di Desa Gandoang, Kecamatan Salem, Kabupaten Brebes kembali digelar meriah pada Selasa Kliwon, 24 Maret 2026. Ritual adat yang telah diwariskan turun-temurun ini berlangsung empat hari setelah Idulfitri dan menjadi magnet budaya yang mengundang ratusan warga.

Tahun ini, suasana Ngasa terasa lebih hidup dibanding dua tahun sebelumnya yang bertepatan dengan Ramadan. Rangkaian kegiatan diawali dengan prosesi Rosulan pada malam hari di tengah desa. Para kokolot, juru kunci, tokoh masyarakat, hingga pemerintah desa turut hadir dalam ritual sakral tersebut.

Dalam prosesi itu, kokolot membacakan ikrol atau ikrar doa yang memuat makna simbolik dari berbagai sajian tradisi sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan. Beragam hidangan khas disiapkan, mulai dari tumpeng, aneka wedang rujak, bekakak, kupat lepet, hingga hasil bumi seperti jagung rebus, kacang panjang, dan umbi-umbian.

Memasuki puncak acara pada Selasa Kliwon, sejak dini hari masyarakat mulai berjalan kaki menuju Pagedongan Gunung Sagara. Perjalanan sejauh kurang lebih dua jam itu diikuti oleh sekitar 450 peserta. Para juru kunci bahkan telah lebih dulu berangkat sejak pukul 05.00 WIB untuk mempersiapkan ritual.

Setibanya di lokasi, warga melaksanakan sedekah gunung sebagai inti tradisi. Sebelum itu, juru kunci menjalankan ritual micen atau ngabuang sebagai simbol tolak bala. Panitia juga mengingatkan sejumlah pantangan yang wajib dipatuhi selama berada di kawasan sakral tersebut.

Kepala Desa Gandoang, Wartono, menyampaikan apresiasi atas konsistensi masyarakat dalam menjaga tradisi. Ia menegaskan bahwa Ngasa bukan sekadar ritual, melainkan identitas budaya yang harus terus dilestarikan.

Perwakilan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Brebes menambahkan, Tradisi Ngasa Gandoang telah berlangsung selama ratusan tahun dan menyimpan nilai-nilai kehidupan yang penting untuk dipahami generasi muda.

Rangkaian acara ditutup dengan doa bersama, dilanjutkan makan bersama dengan menu sederhana berupa nasi jagung dan nasi ketan dengan sayur bambu, tanpa lauk hewani sebagai simbol kesederhanaan dan penghormatan terhadap leluhur.

Pada malam hari, kemeriahan berlanjut melalui hiburan rakyat yang disambut antusias warga, memperkuat nuansa kebersamaan dalam perayaan tersebut.

Tradisi Ngasa Gandoang tidak hanya menjadi wujud syukur, tetapi juga ruang kolektif untuk mempererat solidaritas sosial sekaligus menjaga kearifan lokal yang tetap hidup di tengah arus modernisasi.***
close