![]() |
Menurut Dwi, saat ini arus pengunjung masih terpusat di bagian depan dan tengah pasar. Akibatnya, pedagang yang berada di bagian belakang dan ujung pasar belum menikmati dampak keramaian secara optimal.
"Yang kami usulkan bukan sekadar penataan, tetapi pemerataan keramaian. Pedagang yang berada di tengah maupun di ujung pasar juga harus merasakan manfaat dari ramainya pengunjung," ujar Dwi saat ditemui, Kamis (11/6/2026).
Ia mengatakan usulan tersebut telah disampaikan kepada Pemerintah Daerah sebagai bahan pertimbangan dalam program pembangunan lanjutan Pasar Seng Makmur.
![]() |
"Kami selalu berupaya memenuhi target, tetapi kondisi di lapangan, keterbatasan sarana dan prasarana, serta dinamika jumlah pedagang menjadi tantangan tersendiri," katanya.
Saat ini pengelola terus melakukan monitoring, evaluasi, dan pemetaan potensi pasar agar target yang ditetapkan lebih realistis sesuai kondisi di lapangan.
Berdasarkan data pengelola, Pasar Seng Makmur memiliki 44 unit bangunan toko, dengan 37 unit telah aktif. Selain itu terdapat 13 kios khusus di luar los porongan yang telah digunakan pedagang.
Sementara itu, dari 653 los yang tersedia, sekitar 430 los telah aktif. Di luar bangunan pasar masih terdapat sekitar 450 pedagang yang belum masuk dalam penataan resmi dan menjadi bagian dari rencana penataan lanjutan oleh Pemerintah Daerah.
![]() |
Ke depan, kawasan pasar diusulkan memiliki akses jalan yang lebih tertata, jalur keluar-masuk kendaraan roda dua maupun roda empat, area putar kendaraan, taman di sisi kanan dan kiri pasar, serta pembangunan gapura sebagai pintu masuk kawasan pasar. Penataan tersebut diharapkan membuat kendaraan dapat masuk hingga ke bagian belakang sehingga arus pengunjung merata ke seluruh blok pasar.
"Kalau pembangunan lanjutan sudah berjalan, pedagang akan diarahkan ke lokasi yang lebih representatif. Jadi bukan ditunda, tetapi disesuaikan dengan tahapan pembangunan," jelasnya.
Harapan serupa juga disampaikan para pedagang. Mahmud, pemilik warung makan yang kini berjualan di luar area pasar baru, mengaku tetap bertahan sejak proses relokasi pada 2022 atau sekitar empat tahun terakhir sambil menunggu pembangunan diselesaikan.
Pedagang sayur, Abni, juga berharap pemerintah segera melanjutkan pembangunan sehingga seluruh pedagang dapat menempati lokasi yang lebih layak dan nyaman.
Menurut Dwi, pembangunan Pasar Seng Makmur yang menelan anggaran sekitar Rp30 miliar baru terealisasi sekitar 50 persen. Karena itu, ia berharap pemerintah segera melanjutkan pembangunan agar pasar menjadi lebih tertata, nyaman, dan mampu meningkatkan aktivitas ekonomi masyarakat.
Ia juga menilai penataan akses kendaraan menjadi kebutuhan mendesak. Selama ini pengunjung hanya dapat memarkir kendaraan di bagian depan pasar sehingga aktivitas belanja belum menjangkau seluruh area.
Selain itu, aspirasi pedagang terus dihimpun melalui paguyuban sebagai wadah komunikasi dengan pemerintah. Bahkan, telah disiapkan rekayasa lalu lintas angkutan umum dari berbagai arah dengan tujuan akhir menuju Pasar Seng Makmur untuk meningkatkan jumlah pengunjung.
Dwi menambahkan, belum lama ini Pasar Seng Makmur juga mendapat kunjungan Ketua DPRD Kabupaten Brebes. Dalam kesempatan tersebut, pihak pengelola menyampaikan langsung kondisi pasar saat ini serta harapan agar pembangunan tahap lanjutan segera direalisasikan.
Dengan penyelesaian pembangunan dan penataan akses yang lebih baik, Pasar Seng Makmur diharapkan menjadi pusat perdagangan yang lebih ramai, tertata, serta mampu memberikan pemerataan ekonomi bagi seluruh pedagang. Pungkas Dwi.***



