![]() |
HARIANBUMIAYU.COM. BREBES. Pemerintah Kabupaten Brebes terus mendorong inovasi dalam pengelolaan sampah melalui pengoperasian Tempat Pengelolaan Sampah (TPS) Terintegrasi berbasis maggot di Desa Dukuhsalam, Kecamatan Losari. Fasilitas yang diresmikan Wakil Bupati Brebes, Wurja, pada Senin (15/6/2026) tersebut menjadi langkah baru dalam mengolah limbah organik dari dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dikelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
TPS Terintegrasi ini merupakan fasilitas pertama di Kabupaten Brebes yang secara khusus menangani limbah organik dari dapur-dapur SPPG. Berdiri di atas lahan seluas sekitar 11.000 meter persegi, fasilitas tersebut mengandalkan budidaya maggot sebagai media utama pengurai sampah organik sekaligus menghasilkan produk yang memiliki nilai ekonomi.
Ketua Forum Mitra Ketahanan Gizi Brebes Wilayah Losari, Muhaemin, mengatakan saat ini terdapat 10 dapur SPPG di Kecamatan Losari yang setiap hari menghasilkan sekitar dua ton sampah. Dari jumlah tersebut, sekitar 85 persen merupakan sampah organik yang dapat diolah menggunakan sistem biopon maggot, sedangkan sisanya berupa sampah anorganik.
Menurutnya, pemanfaatan maggot tidak hanya mampu mengurangi volume sampah secara signifikan, tetapi juga menghasilkan maggot yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak maupun perikanan, sehingga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.
Berdasarkan data petugas lapangan Dinas Lingkungan Hidup dan Pengelolaan Sampah (DLHPS) Kabupaten Brebes, sebanyak 200 biopon maggot diperkirakan mampu mengurai hingga 85 persen limbah organik dari dapur-dapur SPPG di Losari. Saat ini telah tersedia 32 biopon aktif yang masing-masing diisi satu kilogram bibit maggot dan berpotensi menghasilkan hingga lima kilogram maggot dewasa.
Muhaemin menegaskan, pembangunan TPS Terintegrasi merupakan bentuk komitmen para pengelola dapur SPPG dalam mengelola sampah secara bertanggung jawab. Ia berharap fasilitas tersebut dapat menjadi model pengelolaan sampah organik yang berkelanjutan dan dapat diterapkan di wilayah lain.
Wakil Bupati Brebes, Wurja, mengapresiasi langkah Forum Mitra Ketahanan Gizi yang menghadirkan solusi konkret terhadap persoalan sampah organik melalui budidaya maggot.
"Persoalan sampah terus bertambah setiap hari. Kehadiran TPS Terintegrasi ini menjadi upaya yang sangat baik untuk membantu mengurangi volume sampah, khususnya yang berasal dari dapur SPPG," ujarnya.
Ia menambahkan, pengelolaan sampah harus menjadi gerakan bersama yang melibatkan seluruh elemen masyarakat. Selain menjaga kebersihan lingkungan, pemanfaatan maggot juga dinilai mampu memberikan nilai tambah bagi perekonomian warga.
Sementara itu, Koordinator Wilayah Badan Gizi Nasional (BGN) Brebes, Arya Dewa Nugroho, menyatakan inovasi yang dilakukan paguyuban dapur SPPG di Kecamatan Losari layak dijadikan percontohan bagi dapur-dapur SPPG lainnya di Kabupaten Brebes.
"Model pengelolaan sampah seperti ini sangat baik dan diharapkan dapat diterapkan di seluruh dapur SPPG agar pengelolaan limbah semakin efektif dan ramah lingkungan," katanya.
Data DLHPS Kabupaten Brebes mencatat volume sampah di wilayah tersebut mencapai sekitar 1.300 ton per hari. Kehadiran TPS Terintegrasi berbasis maggot di Kecamatan Losari diharapkan mampu menjadi salah satu solusi dalam mengurangi timbulan sampah organik, mendukung keberlanjutan Program Makan Bergizi Gratis, sekaligus mendorong terwujudnya ekonomi sirkular yang memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat.***

