DPKP Brebes Siaga Kemarau 2026, Teknologi Pertanian Modern Dibidik Dongkrak Panen hingga 12 Ton per Hektare

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kabupaten Brebes, Hendri Adi Komara, memaparkan strategi menghadapi musim kemarau 2026 melalui penerapan teknologi pertanian modern untuk menjaga produktivitas dan ketahanan pangan di Kabupaten Brebes.
HARIANBUMIAYU.COM, BREBES – Pemerintah Kabupaten Brebes melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi puncak musim kemarau 2026 dengan menyusun langkah strategis untuk mengurangi risiko kekeringan pada lahan pertanian.

Kepala DPKP Kabupaten Brebes, Hendri Adi Komara, Jumat (17/7/2026), mengatakan pemetaan wilayah rawan kekeringan telah dilakukan berdasarkan pengalaman dampak El Nino pada 2023. Saat itu, sekitar 1.900 hektare lahan pertanian terdampak, dengan wilayah paling rentan meliputi Kecamatan Banjarharjo, Losari, Tanjung, Bulakamba, Jatibarang, dan Kersana.

Hendri menjelaskan hingga saat ini belum ada penetapan resmi status kekeringan karena kondisi tersebut baru dapat dipastikan setelah perkembangan musim tanam di lapangan.

Berdasarkan analisis BMKG, potensi kekeringan pada 2026 diperkirakan tidak seberat tahun 2023. Meski demikian, pemerintah tetap melakukan langkah antisipatif sejak dini untuk menjaga produktivitas pertanian.

Menurutnya, tantangan utama bukan terletak pada jumlah pompa air, melainkan berkurangnya debit air di sumber pengambilan. Sementara itu, ketersediaan air di sungai-sungai besar dan saluran pembuangan di wilayah Brebes masih dinilai mencukupi.

Terkait infrastruktur irigasi yang rusak, usulan perbaikan telah diajukan kepada Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS), namun belum memperoleh persetujuan pada tahun ini. Karena itu, pemerintah memaksimalkan pemanfaatan sarana yang tersedia sembari menyiapkan solusi lainnya.

Sebagai langkah antisipasi, DPKP menyiapkan bantuan irigasi perpompaan bagi petani serta mendorong penerapan Pertanian Modern (PM-AAS/Advanced Agricultural System) yang lebih efisien dalam penggunaan air.

Teknologi tersebut menggabungkan metode tanam benih langsung (Tabela), sistem Jajar Legowo, pengaturan populasi tanaman yang lebih padat, serta metode penghematan air Alternate Wetting and Drying (AWD).

"Dengan sistem ini populasi tanaman dapat mencapai sekitar 800 ribu rumpun per hektare. Hasil uji coba menunjukkan produktivitas rata-rata mencapai 10 ton per hektare, bahkan pada lahan percobaan mampu menembus 12 hingga 12,4 ton per hektare," ujar Hendri.

Ia menambahkan, peningkatan produktivitas diharapkan mampu mengimbangi potensi berkurangnya luas tanam akibat keterbatasan pasokan air selama musim kemarau.

Pemerintah Kabupaten Brebes juga memastikan ketersediaan benih yang sesuai dengan teknologi tersebut. Sementara kebutuhan pupuk yang meningkat masih dibahas agar alokasi pupuk bersubsidi dapat disesuaikan bagi petani yang menerapkan sistem pertanian modern.

Hendri berharap sinergi antara pemerintah, penyuluh, dan petani mampu meminimalkan dampak musim kemarau sehingga produktivitas pertanian dan ketahanan pangan Kabupaten Brebes tetap terjaga.***
close