![]() |
HARIANBUMIAYU.COM | BREBES — Perdebatan soal siapa yang lebih kuat jika harus bertarung di atas ring justru berubah menjadi pesan politik tentang pentingnya persatuan. Hal itu disampaikan Anggota DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Harris Turino, saat menyinggung sosok Rizki Nurohman, peraih medali emas PON Aceh-Sumut 2024 dari cabang Mixed Martial Arts (MMA).
Harris Turino mengaku, jika hanya melihat dari postur dan bobot tubuh, dirinya mungkin sedikit lebih percaya diri. Ia menyebut dirinya masuk kategori kelas berat, sementara Rizki Nurohman berada di kelas 52 kilogram.
Namun, menurut Haris, ukuran tubuh bukanlah jaminan seseorang akan memenangkan pertarungan.
“Kalau melihat bobot badan, mungkin saya sedikit lebih percaya diri. Saya masuk kategori kelas berat, sementara Mas Rizki berada di kelas 52 kilogram. Tetapi jangan salah, ukuran badan bukan jaminan kemenangan,” ujar Harris.
Terlebih, Rizki memiliki pengalaman bertanding yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Prestasinya sebagai peraih medali emas PON Aceh-Sumut 2024 cabang MMA membuat Harris mengakui bahwa teknik, kecepatan dan pengalaman justru menjadi faktor penting dalam sebuah pertarungan.
Candaan soal duel tersebut semakin menarik ketika Kang Mas Narjo, yang disebut Harris sebagai sedulur sekaligus pernah menjabat Wakil Bupati Brebes dua periode, memberikan peringatan.
“Sekali sampeyan kena jotos Mas Rizki, ndak bakalan bisa bangkit lagi,” tutur Haris menirukan pesan Kang Mas Narjo.
Mendengar nasihat tersebut, Harris mengaku kemudian berpikir bahwa persoalannya bukan lagi mengenai siapa yang lebih besar, lebih kuat maupun lebih cepat.
Justru dari situ muncul sebuah pilihan yang dinilai jauh lebih bijaksana: mengapa harus bertanding kalau bisa bersanding?
Harris dan Rizki akhirnya memilih melihat persoalan tersebut dari sudut pandang yang lebih luas. Bukan mencari siapa yang menang dan siapa yang kalah, melainkan menyatukan tenaga, gagasan dan semangat untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat.
“Kalau bisa bersanding, kenapa harus bertanding?” ungkapnya.
Menurut Harris, semangat kebersamaan itu harus diwujudkan dalam kerja nyata. Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah kondisi infrastruktur jalan yang masih membutuhkan penanganan, khususnya di wilayah Kecamatan Bantarkawung.
Ia menegaskan, masyarakat tidak membutuhkan para wakilnya untuk saling menjatuhkan. Yang dibutuhkan adalah kehadiran, kerja sama dan perjuangan bersama untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Rakyat tidak membutuhkan kita untuk saling menjatuhkan di atas ring. Rakyat membutuhkan kita untuk turun bersama, bekerja bersama dan memperjuangkan apa yang menjadi kebutuhan mereka,” tegas Harris.
Bagi Harris, perbedaan kemampuan, latar belakang maupun kekuatan seharusnya tidak menjadi alasan untuk saling berhadapan. Sebaliknya, seluruh potensi harus disatukan agar menghasilkan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat.
“Kalau ditanya siapa yang lebih kuat, mungkin jawabannya sederhana: bukan saya, bukan Mas Rizki, tetapi kita ketika bersatu,” katanya.
Ia pun menekankan bahwa dalam politik, kemenangan bukan semata-mata ketika seseorang mampu mengalahkan pihak lain. Kemenangan yang sesungguhnya adalah ketika para pihak mampu bersanding, bergotong royong dan menghadirkan manfaat nyata bagi rakyat.
“Bertarung bisa mencari pemenang. Bersanding bisa melahirkan perjuangan. Dan ketika perjuangan itu untuk rakyat, maka kita tidak perlu saling mengalahkan, kita cukup saling menguatkan,” pungkas Harris.
Pesan tersebut menjadi gambaran bahwa perbedaan kekuatan maupun latar belakang justru dapat menjadi modal untuk membangun kerja sama. Sebab pada akhirnya, politik bukan tentang siapa yang paling kuat, tetapi tentang siapa yang mampu memberikan manfaat paling nyata bagi rakyat.***

