![]() |
HARIANBUMIAYU.COM | SRAGEN – Persoalan sampah rumah tangga di wilayah pedesaan terus membutuhkan solusi yang praktis dan ramah lingkungan. Kondisi tersebut turut dirasakan warga Ngamban, Desa Gawan, Kecamatan Tanon, Kabupaten Sragen.
Kini, warga setempat mendapatkan solusi melalui inovasi dosen dan mahasiswa STT Warga Surakarta berupa alat pembakar sampah dengan sistem pembakaran tertutup yang dirancang untuk meminimalkan asap.
Alat tersebut dikembangkan sebagai upaya membantu masyarakat mengatasi sampah rumah tangga, termasuk sampah plastik dan limbah organik yang selama ini sulit dikelola dan kerap menumpuk.
Koordinator dosen STT Warga Surakarta, Amarulloh, menjelaskan alat pembakar sampah tersebut menggunakan sistem pembakaran tertutup dengan pengaturan aliran udara. Sistem itu dirancang agar proses pembakaran berlangsung lebih optimal sehingga asap yang dihasilkan jauh lebih sedikit dibandingkan pembakaran sampah secara terbuka.
![]() |
Menurutnya, alat tersebut dibuat menggunakan material yang relatif sederhana namun memiliki ketahanan terhadap panas. Konstruksinya memanfaatkan bata tahan api dan semen khusus serta dilengkapi cerobong vertikal untuk membantu mengoptimalkan aliran udara dan panas selama proses pembakaran.
Pada bagian bawah terdapat ruang pembakaran yang cukup luas sehingga dapat digunakan untuk membakar berbagai jenis sampah, seperti daun kering, ranting, hingga limbah dapur.
Berdasarkan hasil uji coba, alat tersebut dinilai mampu meningkatkan efisiensi pembakaran dibandingkan metode pembakaran terbuka yang selama ini dilakukan masyarakat. Abu yang dihasilkan juga relatif lebih sedikit, sementara kepulan asap tampak jauh lebih tipis.
Kondisi tersebut mendapat respons positif dari warga. Mereka menilai keberadaan alat pembakar sampah tersebut membuat proses pengelolaan sampah menjadi lebih nyaman karena tidak lagi menimbulkan kepulan asap pekat seperti pembakaran terbuka.
“Kalau dulu bakar sampah bikin sesak dan hitam-hitam, sekarang sudah jauh lebih bersih. Kami juga tidak perlu khawatir lagi,” ujar salah seorang warga yang mengikuti uji coba.
Ketua RT 8 Ngamban, Solikhin, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada dosen serta mahasiswa STT Warga Surakarta yang telah menghadirkan inovasi tersebut.
Menurutnya, manfaat kegiatan tidak hanya berupa bantuan alat, tetapi juga memberikan pengetahuan kepada masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan sampah secara lebih bijak.
“Kami sangat berterima kasih. Mahasiswa dan dosen dari STT Warga sudah memberikan ilmu dan alat yang bermanfaat sekali untuk kami di sini,” ungkap Solikhin.
Dengan adanya alat tersebut, warga Ngamban kini memiliki alternatif dalam menangani sampah rumah tangga. Konstruksinya yang kokoh dan tahan panas juga memungkinkan alat digunakan secara bergantian oleh sejumlah keluarga.
Inovasi yang dikembangkan STT Warga Surakarta tersebut diharapkan tidak berhenti di Ngamban. Konsep pengelolaan sampah berbasis teknologi sederhana itu diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat di desa lain untuk menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan sehat.***
.jpg)

