![]() |
HARIANBUMIAYU.COM | BREBES- Jembatan Keruhbehet di Desa Mlayang, Kecamatan Sirampog, Kabupaten Brebes, yang rusak sejak Desember 2025 hingga kini belum mendapat perbaikan permanen. Kondisi jembatan yang amblas dan miring memutus akses kendaraan roda empat, membebani lebih dari 3.000 warga, bahkan memaksa warga menggotong pasien secara manual saat darurat kesehatan.
Pada Jumat (18/9/2026), warga Dukuh Mlayang Luhur, Yanto, warga RT 01/RW 04, terpaksa ditandu menggunakan sarung untuk dibawa berobat ke rumah sakit. Tidak ada kendaraan roda empat yang dapat menjangkau lokasi karena jembatan tak lagi layak dilintasi. Kesulitan serupa kerap dialami warga lain, termasuk ibu hamil yang memerlukan akses ke fasilitas kesehatan untuk persalinan.
Jembatan yang membentang di atas Sungai Keruhbehet ini merupakan bagian dari jalan Poros Kabupaten, dengan panjang sekitar 20 meter dan lebar 3 meter. Sejak rusak lebih dari sembilan bulan lalu, kendaraan roda empat tidak dapat melintas. Saat ini hanya pejalan kaki dan pengendara sepeda motor yang dapat lewat, dengan risiko kecelakaan yang terus meningkat.
Kepala Desa Mlayang, Abdul Khafidz, menyampaikan bahwa perbaikan jembatan sebenarnya telah dianggarkan dalam APBD Kabupaten Brebes Tahun 2026. Namun hingga pertengahan September, belum ada tanda-tanda pengerjaan akan dimulai.
"Sudah masuk di anggaran APBD tahun ini, tapi hingga kini belum ada tanda-tanda akan dimulai pekerjaan,” kata Abdul Khafidz, Sabtu (19/9/2026).
Padahal pasca bencana banjir bandang dan tanah longsor di wilayah tersebut, Bupati Brebes Paramitha Widya Kusuma saat berkunjung langsung berjanji menyiapkan anggaran perbaikan sebesar Rp650 juta melalui Perubahan APBD Tahun 2025. Hingga kini, janji tersebut belum terealisasi.
Pemerintah desa telah berulang kali menanyakan perkembangan kepada dinas terkait, namun belum mendapat kepastian jadwal pelaksanaan. Warga khawatir kerusakan semakin meluas dan berpotensi menimbulkan kecelakaan fatal jika dibiarkan terus.
Jembatan Keruhbehet adalah satu-satunya akses utama yang menghubungkan lima pedukuhan. Setiap hari warga melintasinya untuk bekerja, bersekolah, berdagang, mengangkut hasil pertanian, hingga mengakses pelayanan kesehatan dan pemerintahan.
Warga mendesak Pemerintah Kabupaten Brebes beserta dinas terkait segera menindaklanjuti, menepati janji, dan merealisasikan perbaikan jembatan tanpa penundaan lagi. Keselamatan dan hak dasar warga atas akses jalan yang aman tidak boleh diabaikan lebih lama. Pungkasnya. (YS)

