Ribuan Warga Padati Maulid Nabi di Kalijurang, Peresmian Madrasah Lansia Jadi Momentum Kebangkitan Pendidikan Keagamaan

HARIANBUMIAYU.COM  | Tonjong – Ribuan warga memadati Lapangan Pejaten, Desa Kalijurang, Kecamatan Tonjong, Kabupaten Brebes, Senin (26/10/2026), dalam pengajian umum peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus syukuran gedung Madrasah Lansia Kalijurang.

Kegiatan tersebut menjadi momentum mempererat silaturahmi, memperkuat nilai-nilai keagamaan, sekaligus mengapresiasi inisiatif masyarakat dalam menyediakan sarana pendidikan Islam bagi warga lanjut usia.

Acara dihadiri unsur Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) Tonjong, Muslimat NU, Ansor, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta jajaran Pemerintah Desa Kalijurang. Tausiyah utama disampaikan oleh pendakwah Miftah Maulana Habiburrahman atau yang dikenal sebagai Gus Miftah.

Kades Kalijurang Apresiasi Peran Masyarakat


Kepala Desa Kalijurang, Edi Riyanto, S.H., M.H., menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya pengajian Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus syukuran gedung Madrasah Lansia. Ia berharap kegiatan tersebut tidak hanya memperkuat kehidupan religius masyarakat, tetapi juga menumbuhkan kepedulian dan kebersamaan antarwarga.

Menurut Edi, keberadaan Madrasah Lansia merupakan langkah positif dalam memberikan kesempatan kepada warga lanjut usia untuk terus belajar agama, memperdalam pemahaman ibadah, dan mengikuti kegiatan keagamaan di lingkungan mereka.

Ia juga mengapresiasi keterlibatan masyarakat, khususnya Muslimat dan Fatayat, yang turut berperan dalam menggerakkan pendidikan keagamaan bagi kalangan lansia.

Edi berharap madrasah tersebut dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan dan menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas kehidupan keagamaan masyarakat Desa Kalijurang.

Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus menjaga semangat gotong royong dan mendukung kegiatan positif yang memberikan manfaat bagi warga.

Gus Miftah Ajak Jamaah Bersyukur dan Berbagi Rezeki

Dalam tausiyahnya, Gus Miftah mengajak jamaah memahami bahwa kehidupan tidak selalu berjalan sesuai dengan rencana manusia. Ia mengingatkan bahwa setiap orang memiliki jalan hidup dan ketentuan rezeki yang berbeda.

Menurutnya, perbedaan tersebut perlu disikapi dengan rasa syukur, bukan dengan terus membandingkan kehidupan sendiri dengan orang lain.

Gus Miftah juga menekankan pentingnya menjadikan rezeki sebagai sarana untuk berbagi dan membantu sesama. Orang yang memiliki kecukupan hendaknya tidak hanya menikmati rezeki untuk dirinya sendiri, tetapi juga berusaha memberikan manfaat bagi orang-orang di sekitarnya.
Pesan tersebut disampaikan dengan gaya ceramah yang santai dan diselingi humor, sehingga suasana pengajian berlangsung hangat dan interaktif.

Dalam acara tersebut, Gus Miftah juga mengajak jamaah berinteraksi melalui sesi tanya jawab yang disertai pembagian rezeki kepada peserta. Interaksi tersebut menambah antusiasme jamaah yang mengikuti pengajian.

Selain membahas rasa syukur dan kepedulian sosial, Gus Miftah turut menyinggung pentingnya menjaga kepercayaan masyarakat terhadap organisasi keagamaan, khususnya Nahdlatul Ulama (NU). Ia menekankan perlunya pengabdian nyata agar organisasi mampu menjawab harapan jamaah dan memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat.

Ia juga mengajak masyarakat mendukung program pemerintah yang membawa manfaat, disertai kritik yang konstruktif sebagai bagian dari upaya membangun kehidupan bersama yang lebih baik.

Anggota DPRD Jateng Apresiasi Madrasah Lansia

Sementara itu, Anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah, H. Musyaffa, Lc., yang akrab disapa Gus Musyaffa, menyampaikan apresiasi atas berdirinya gedung Madrasah Lansia Kalijurang saat diwawancarai awak media.

Ia menilai keberadaan madrasah tersebut merupakan wujud kepedulian dan dedikasi masyarakat dalam mengembangkan pendidikan keagamaan, terutama bagi warga lanjut usia.

Menurut Musyaffa, membangun fasilitas pendidikan dari awal hingga dapat dimanfaatkan masyarakat bukanlah pekerjaan mudah. Karena itu, inisiatif warga Kalijurang dinilai layak mendapat apresiasi dan menjadi contoh bagi daerah lain.

Ia juga menyoroti peran perempuan, khususnya Muslimat dan Fatayat, yang ikut menggerakkan kegiatan belajar agama bagi kalangan lansia. Keterlibatan tersebut menunjukkan bahwa pendidikan keagamaan berbasis masyarakat dapat tumbuh melalui semangat kebersamaan dan kepedulian sosial.

Musyaffa berharap Madrasah Lansia tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga ruang bagi warga lanjut usia untuk memperdalam pengetahuan agama, meningkatkan pemahaman ibadah, dan menjaga hubungan sosial.

Ia menilai gerakan masyarakat seperti ini penting untuk terus didukung karena dapat menjadi inspirasi bagi kelompok lain dalam membangun kegiatan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan warga.

Syukuran gedung Madrasah Lansia Kalijurang menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi antara pemerintah desa, organisasi keagamaan, dan masyarakat dalam mengembangkan pendidikan Islam yang inklusif.

Keberadaan madrasah tersebut diharapkan membuka kesempatan bagi warga lanjut usia untuk terus belajar, memperdalam ajaran agama, dan menjalani kehidupan yang lebih bermakna.

Melalui kegiatan Maulid Nabi Muhammad SAW ini, masyarakat Kalijurang juga diharapkan semakin memperkuat nilai keteladanan Rasulullah, terutama dalam hal kepedulian, kebersamaan, dan semangat berbagi kepada sesama.

Dengan dukungan berbagai pihak, Madrasah Lansia Kalijurang diharapkan dapat berkembang menjadi sarana pendidikan keagamaan yang berkelanjutan sekaligus memperkuat tradisi gotong royongditengahmasyarakat.  Pungkasnya. (Rizal)
close