Menag Nasaruddin Umar Siap Perjuangkan Keadilan bagi Madrasah Diniyah: Tolak Full Day School, Dukung Insentif Ustadz

HARIANBUMIAYU.COM. Jakarta - Menteri Agama Republik Indonesia, Nasaruddin Umar, menerima audiensi Ketua Umum Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (FKDT), Lukman Hakim, beserta jajaran pengurus di Masjid Istiqlal, Jakarta, Senin (30/6/2025). Pertemuan tersebut membahas isu-isu krusial mengenai penguatan pendidikan Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT) di Indonesia.

Dalam pertemuan itu, Menag Nasaruddin menegaskan komitmennya untuk memperjuangkan keadilan dan kesetaraan bagi lembaga MDT. Ia menyatakan, Kementerian Agama akan terus mendorong kesetaraan perlakuan antara madrasah dan sekolah umum melalui jalur konstitusional.

“Inilah yang saya sering dengungkan di DPR, bahwa semua berhak mendapat perlakuan yang sama. Keputusan Mahkamah Konstitusi menjadi angin segar bagi MDT. Sekarang kami sedang mengupayakan keadilan bagi mereka,” ujar Menag Nasaruddin.

Menag juga mengapresiasi masukan dari FKDT dan menyebut audiensi tersebut sebagai langkah penting untuk menyerap aspirasi serta memperkuat sinergi antara pemerintah dan lembaga pendidikan keagamaan nonformal. Ia berjanji akan memperjuangkan perubahan yang lebih baik bagi MDT.

Ketua Umum FKDT, Lukman Hakim, dalam kesempatan tersebut menyampaikan berbagai persoalan di lapangan, terutama terkait minimnya fasilitas sarana-prasarana, khususnya teknologi informasi. Kondisi tersebut kerap menghambat proses pendataan dan administrasi lembaga.

“Mayoritas MDT tidak memiliki fasilitas memadai, khususnya di bidang IT. Hal ini menyebabkan pengisian data tidak tepat waktu dan stagnan,” ungkap Lukman.

Lebih lanjut, Lukman menyoroti rendahnya insentif bagi para ustadz MDT yang mayoritas hanya mendapat honor sekitar Rp100.000 hingga Rp200.000 per bulan. Ia mengapresiasi Bupati Kudus sebagai salah satu pemimpin daerah yang memberikan insentif besar bagi ustadz MDT, yaitu sebesar Rp1 juta per bulan.

FKDT juga menyampaikan keberatannya terhadap penerapan kebijakan full day school yang dinilai mengganggu jam pembelajaran di MDT. Menurut Lukman, kebijakan sekolah lima hari membuat siswa kelelahan dan tidak lagi sempat mengikuti pembelajaran diniyah di luar sekolah formal.

“Ada kegelisahan dari kawan-kawan. Ketika school five days diterapkan, siswa tidak punya waktu lagi untuk belajar di MDT,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Ketua Umum FKDT juga mengundang Menteri Agama untuk hadir dan memberikan arahan dalam Rapat Pimpinan Nasional dan peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-13 FKDT yang akan digelar pada 18–20 Juli 2025 di Ballroom Hotel Bidakara, Jakarta. Menag menyambut undangan tersebut dengan baik.

Pertemuan ini menandai komitmen bersama antara pemerintah dan FKDT dalam menciptakan sistem pendidikan diniyah yang lebih inklusif, berkeadilan, dan berdaya saing.